Translate

Kamis, 07 November 2013

Cara-Cara yang Harus Kita Lakukan

Usaha-Usaha Pelestarian Lingkungan Hidup
Usaha-usaha pelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab kita bersama. Dalam hal ini, usaha pelestarian lingkungan hidup tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah saja, melainkan tanggung jawab bersama antara pemerintah dengan masyarakat. Pada pelaksanaannya, pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan yang dapat digunakan sebagai payung hukum bagi aparat pemerintah dan masyarakat dalam bertindak untuk melestarikan lingkungan hidup.
Beberapa kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah tersebut, antara lain meliputi hal-hal berikut ini. 1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan- Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2. Surat Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 148/11/SK/4/1985 tentang Pengamanan Bahan Beracun dan Berbahaya di Perusahaan Industri. 3. Peraturan Pemerintah (PP) Indonesia Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 4. Pembentukan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup pada tahun 1991. Selain itu, usaha-usaha pelestarian lingkungan hidup dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini  :
  1. Melakukan pengolahan tanah sesuai kondisi dan kemampuan lahan, serta mengatur sistem irigasi atau drainase sehingga aliran air tidak tergenang.
  2. Memberikan perlakuan khusus kepada limbah, seperti diolah terlebih dahulu sebelum dibuang, agar tidak mencemari lingkungan.
  3. Melakukan reboisasi pada lahan-lahan yang kritis, tandus dan gundul, serta melakukan sistem tebang pilih atau tebang tanam agar kelestarian hutan, sumber air kawasan pesisir/pantai, dan fauna yang ada di dalamnya dapat terjaga.
  4. Menciptakan dan menggunakan barang-barang hasil industri yang ramah lingkungan.
  5. Melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap perilaku para pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) agar tidak mengeksploitasi hutan secara besar-besaran.
Sementara itu, sebagai seorang pelajar apa upaya yang dapat kalian lakukan dalam usaha pelestarian lingkungan hidup? Beberapa hal yang dapat kalian lakukan sebagai bentuk upaya pelestarian lingkungan hidup, antara lain sebagai berikut: :
  1. Menghemat penggunaan kertas dan pensil,
  2. Membuang sampah pada tempatnya,
  3. Memanfaatkan barang-barang hasil daur ulang,
  4. Menghemat penggunaan listrik, air, dan BBM, serta, 
  5. Menanam dan merawat pohon di sekitar lingkungan rumah tinggal.
Disamping itu usaha pelestarian lingkungan hidup ini harus dimulai dari setiap individu dengan menitikberatkan pada kesadaran akan pentingnya lingkungan bagi kehidupan manusia dan pelestarian alam.

Pelestarian Lingkungan Sebagai Sarana Pencegahan Bencana Alam

Murka alam dalam wujud bencana alam seolah telah menjadi rutinitas yang dihadapi dalam kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia. Pada setiap musim hujan kita selalu mengalami bencana sebagai rutinitas tahunan seperti terjadinya bencana tanah longsor, banjir dan banjir bandang dibeberapa daerah. Sedang pada saat musim kemarau akan ditemui bencana kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, gagal panen. Belum lagi terjadinya bencana alam akibat kondisi geologi alam wilayah Indonesia yang rawan terjadi gempa, tsunami dan letusan gunung berapi. Bencana banjir dan banjir bandang serta tanah longsor di sebagian wilayah Indonesia sepanjang januari sampai juni 2006 adalah contoh terkini dari kejadian tersebut. Dalam mengatasi masalah tersebut pemerintah masih terkesan seperti “pemadam kebakaran”, berupaya memadamkan api setelah terjadi kebakaran, berupaya menangani bencana setelah bencana terjadi, bukannya melakukan optimalisasi langkah pencegahan dan minimalisasi kemungkinan timbulnya bencana. Disamping itu masih sering terjadi kekisruhan dalam koordinasi penanganan bencana yang akan ditangani oleh masing-masing sektor serta perencanaan penanganan bencana secara jangka panjang. Dalam sebagian besar bencana-bencana tersebut biasanya orang, baik yang awam maupun ahli selalu menghubungkannya dengan keberadaan hutan. Segala sesuatu yang terkait dengan hutan baik itu institusi pemerintah (Departemen Kehutanan, KLH, Dinas kehutanan, Bapedalda), NGO/LSM, Swasta (pengelola atau pemanfaat hutan) maupun masyarakat biasanya akan menyuarakan pandangan, kritik dan sarannya masing-masing. Namun sangat jarang muncul usulan atau gagasan konkret yang dapat membantu mengatasi masalah secara berkesinambungan.
Telah banyak teori dan pengalaman dari negara lain yang dilontarkan para ahli untuk membantu mengatasi dan mencegah bencana melalui manajemen pengelolaan bencana, Managemen pengelolaan sampah itu bisa bermacam-macam mulai dari penanganan kemungkinan terjadinya bencana, penanganan selama bencana sampai penanganan pasca bencana. Pemerintah telah mencoba menerapkan beberapa langkah penanganan antisipasi bencana, namun sekali lagi belum nampak hasil pencegahan timbulnya bencana alam secara efektif. Contoh: penanganan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) prioritas, pembuatan bangunan pengendali banjir (dam, waduk, talud sungai), pembuatan sudetan-sudetan sungai dll. “Concern” sektor kehutanan terhadap upaya penanggulangan bencana sebenarnya terfokus pada eksistensi dan keberadaan hutan.
Sesuai dengan UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Hutan menurut statusnya dibedakan ke dalam hutan negara, hutan hak dan hutan adat. Hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah, hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah, sedang hutan adat adalah hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat. Oleh UU tersebut, penguasaan hutan negara diberikan kepada penyelenggara negara (Pemerintah) untuk diurus demi pencapaian kemakmuran rakyat Indonesia.
Sesuai fungsinya hutan negara dibedakan ke dalam hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi. Oleh karena itu rusak dan terdegradasinya hutan negara yang saat ini mencapai sekitar 59,7 juta Ha dari luasan keseluruhan 120,3 juta Ha, dengan laju kerusakan 2,8 juta ha/tahun menjadi tanggung jawab Pemerintah, yang pada kenyataannya hingga saat ini hutan-hutan tersebut terus mengalami rongrongan dari aktifitas-aktifitas illegal.
Upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah melalui penataan pengusahaan hutan, rehabilitasi hutan dan lahan, perlindungan dan konservasi kawasan, seolah tidak dapat mengimbangi laju kerusakan yang terjadi, sehingga menjadi logis apabila kejadian bencana alam masih sering terjadi. Membangun Hutan Rakyat Sebenarnya ada potensi tersembunyi yang sangat besar untuk ikut mengimbangi tingkat kerusakan hutan yang semakin besar tersebut, yaitu keberadaan hutan hak atau secara umum kita sebut sebagai hutan rakyat. Berdasarkan data yang diolah oleh BPS yang bekerja sama dengan Departemen Kehutanan (walaupun data tersebut tidak memperlihatkan potensi luasan hutan rakyat) menunjukkan besarnya potensi hutan rakyat tersebut. Data tersebut memperlihatkan bahwa terdapat rata-rata sekitar 3,43 juta penduduk yang mengusahakan hutan rakyat dengan jumlah pohon dari 10 jenis tanaman yang didata (akasia, bambu, cendana, jati, mahoni, pinus, sengon, rotan, sonokeling dan sungkai) mencapai sekitar 238,76 juta pohon/rumpun. Apabila diasumsikan secara kasar jarak tanamnya 4 x 4 meter, maka diprediksi terdapat hutan rakyat seluas 380 ribu Ha, memang kelihatannya kecil, namun perlu dicatat bahwa yang diolah baru 10 jenis pohon dari sekitar 20 jenis pohon yang diusahakan oleh rakyat, serta belum termasuk potensi tanaman tahunan buah-buahan.
Pemerintah sendiri melalui Departemen Kehutanan sejak beberapa tahun lalu sebenarnya telah melakukan upaya fasilitasi pembangunan hutan rakyat, namun gaungnya belum begitu nampak secara nasional, sehingga pengembangan potensi hutan rakyatnya belum optimal. Oleh karena itu mencegah bencana alam dengan mengedepankan pembangunan hutan rakyat layak dijadikan salah satu pilihan efektifitas pencegahan bencana alam. Mendorong peningkatan pembangunan hutan rakyat sebenarnya bukan hanya dikarenakan oleh besar potensinya saja, tetapi memuat dan mengandung alasan-alasan logis akan terjaminnya keberhasilan pembangunannya. Pertama, penanaman tanaman tahunan yang dilakukan oleh masyarakat di lahan miliknya sendiri, hampir dapat dipastikan akan dilandasi oleh alasan-alasan konkret dan logis secara ekonomis mengapa mereka mau menanam. Hal ini dengan sendirinya akan diikuti oleh rasa memiliki (“sense of belonging”) dari masyarakat itu sendiri terhadap eksistensi tanamannya, sehingga mereka akan selalu merawat, menjaga dan melindungi tanamannya tersebut. Alasan ekonomis yang secara umum dapat dikedepankan adalah bahwa tanaman tahunan tersebut dapat dijadikan tabungan (“saving”) yang sewaktu-waktu dapat dimanfaatkan untuk keperluan-keperluan jangka panjang. Kedua, Peningkatan luasan hutan rakyat juga telah menjadi salah satu priotitas kebijakan pembangunan pemerintah (Departemen Kehutanan) sejak Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu. Departemen Kehutanan telah berkomitmen untuk menfasilitasi pembangunan hutan rakyat seluas 2 juta Ha sampai dengan tahun 2009 (seperti disebutkan dalam Rencana Strategis Departemen Kehutanan tahun 2005-2009).
Komitmen ini tentunya akan dibarengi dengan langkah-langkah kebijakan lanjutan dan khususnya pendanaan untuk ikut mendorong terwujudnya perluasan hutan rakyat, salah satunya adalah pengerahan sebagian dana untuk gerakan rehabilitasi hutan dan lahan (GERHAN) untuk membangun hutan rakyat. Ketiga, keberhasilan semakin meluasnya hutan rakyat akan ikut menambah besaran lahan/areal yang bervegetasi hutan pada lahan-lahan diluar hutan negara, dengan demikian coverage tanaman tahunan akan bertambah dalam skala nasional. Bertambahnya penutupan hutan secara nasional akan diyakini akan ikut memberi andil dalam pencegahan bencana alam. Keberhasilan pencegahan bencana alam melalui pembangunan hutan rakyat akan sangat ditentukan pula oleh dukungan pemetaan potensi lahan-lahan rawan bencana alam, khususnya yang berada di luar hutan negara. Kejelasan posisi daerah-daerah rawan bencana akan membantu penentuan lokasi-lokasi pembangunan hutan rakyat. Disamping itu untuk memberikan dorongan kepada masyarakat agar membangun hutan rakyat di lahan miliknya, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah inovatif, antara lain dengan menetapkan insentif-insentif bagi masyarakat yang menanami lahannya dengan tanaman tahunan, misal: tanah yang ditanami tidak ditarik Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), menyediakan bibit-bibit gratis sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar, membebaskan perdagangan kayu rakyat dari pungutan-pungutan seperti layaknya dalam perdagangan kayu umumnya.
Keberhasilan pembangunan hutan rakyat diharapkan memberi efek berganda mulai dari berkurangnya bencana alam, meluasnya penutupan (“coverage”) lahan secara nasional, ikut andil dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat sampai sebagai pendukung penentuan indikator kesuksesan kinerja pemerintah. * Perencana Madya Pada Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan,
http://saifiarif78.blogspot.com/

Rabu, 06 November 2013

Peduli Lingkungan di Mulai dari, SAYA !

Kepedulian Terhadap Kelestarian Lingkungan Dimulai Dari Diri Sendiri

     Program go green yang telah lama tercetus sebagai gerakan global telah berangsur-angsur membangkitkan kesadaran serta antusiasme masyarakat Indonesia untuk turut berpartisipasi. Hal ini dapat dilihat dari munculnya beberapa komunitas proaktif seperti Bike to Work dan tentu saja Go Green Indonesiaku.
    Pemerintah pun menyikapi kecenderungan positif ini dengan dukungan-dukungan yang diwujudkan lewat program-program seperti ‘Gerakan Menanam Sejuta Pohon’, kebijakan memerangi penebangan liar serta konsep Green Economy.Hasilnya, dalam beberapa tahun terakhir masyarakat Indonesia pun semakin sadar akan pentingnya kelestarian alam semesta dan semakin termotivasi untuk turut mengambil bagian dalam organisasi, komunitas maupun gerakan-gerakan bermotif go green.
     Meski demikian, kecintaan kita terhadap bumi sebenarnya tidak melulu harus diwujudkan lewat sebuah kegiatan massal yang terorganisir. Bahkan untuk membangun kesadaran yang lebih besar lagi sebenarnya kita justru perlu memulai menerapkan gaya hidup ramah lingkungan itu dari lingkup yang paling kecil: lingkup pribadi. HP Proliant Living Green sadar betul akan pentingnya memupuk semangat cinta lingkungan dalam jiwa tiap-tiap pribadi. Karena itu, lewat sebuah kontes foto bertema “Green Living,” HP Proliant berupaya memberi ‘penghargaan’ tersendiri bagi orang-orang yang telah berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan yang hijau.
Berikut ini adalah contoh-contoh pribadi yang telah mewujudkan kepedulian mereka terhadap kelestarian lingkungan dalam keseharian mereka:



http://ericksebelasipsempat.blogspot.com/


BAGAIMANA SIH LINGKUNGAN KITA SEKARANG ??


                                                 Definisi Lingkungan
LINGKUNGAN adalah segala hal yang ada di Bumi, baik berbentuk benda mati seperti tanah, air, udara, bebatuan, udara, serta benda  atau makhluk hidup, yaitu flora dan fauna. Manusia adalah bagian dari lingkungan. Manusia sangat tergantung dengan lingkungannya, karena manusia mengambil Sumber Daya Alam (SDA) untuk menunjang kehidupannya. Manusia dan lingkungan juga saling mempengaruhi. Manusia dengan kecerdasannya dapat melestarikan lingkungan dengan baik atau malah merusaknya.

Sayangnya, kerusakan lingkungan yang diakibatkan manusia lebih jelas terjadi. Saat ini jumlah manusia di bumi sekitar 7 miliar jiwa dan akan terus bertambah menjadi 9 miliar jiwa pada 2050, sehingga manusia terus menyedot SDA secara berlebihan yang memperparah kerusakan lingkungan. Bagaimana manusia dapat berhubungan baik atau buruk dengan lingkungannya sangat terkait dengan perilaku peduli lingkungan. Ternyata perilaku peduli lingkungan awak geutanyoe (orang kita) masih buruk.

Kementerian Lingkungan Hidup melakukan survei dengan Indeks Perilaku Peduli Lingkungan Publik (PPL) terhadap 6.048 responden di 12 provinsi dan 24 kabupaten/kota selama Oktober-Desember 2012 lalu. Indikator PPL antara lain konsumsi listrik, pengelolaan sampah, pemanfaatan air, penggunaan bahan bakar, emisi karbon, dan perilaku hidup sehat. Dari berbagai indikator tersebut diperoleh skor hanya 0,57 dari rentang skor 1-10, yang berarti perilaku peduli lingkungan pada masyarakat Indonesia sangat rendah (Kompas, 15/5/2013).

            Kenyataan sehari-hari
Hasil dari survei tersebut menurut saya wajar. Kenapa wajar? Karena realitas yang saya lihat sehari-hari. Dalam pengamatan saya banyak orang menggunakan SDA seperti air dan energi listrik dengan berlebihan seenaknya karena keduanya sudah tersedia, tinggal dipakai, apalagi jika orang tersebut tidak perlu membayar air dan listrik, karena dibayar orangtua atau menggunakan fasilitas umum. Banyak orang lebih suka menggunakan kendaraan bermotor daripada berjalan kaki atau bersepeda walaupun tujuannya dekat. Banyak orang menganggap bumi ini tong sampah raksasa sehingga seenaknya membuang sampah di sembarang tempat.

Ironisnya, perilaku antipeduli lingkungan ini tidak selalu terjadi pada ureung hana meuphom (orang yang tidak paham) tapi juga ureung meuphom (orang yang paham) seperti akademisi. Di kampus saya yang identik dengan kesehatan, sampah dibuang sembarangan di belakang gedung perkuliahan, termasuk limbah obat-obatan. Tidak ada yang peduli dengan sampah ini walaupun mahasiswa, dosen, bahkan mungkin dekan melewatinya berkali-kali. Bahkan, beberapa mahasiswa yang tergolong pintar pun tanpa beban membuang sampahnya di kelas, tidak ada bedanya dengan orang awam atau ureung hana teupeu sapeu (orang yang tidak tahu apa-apa).

Alat pengatur udara (AC) dan proyektor di kelas perkuliahan seringkali tetap hidup walaupun kuliah sudah selesai. Penghuni kelas tidak berpikir untuk mematikannya, malah keluar dari ruangan begitu saja. AC tetap digunakan termasuk ketika cuaca sedang dingin alih-alih membuka jendela. Lampu di kelas pun tetap digunakan berlebihan dari pada memanfaatkan cahaya alami masuk lewat jendela. Mahasiswa lebih senang mencetak (print) bahan kuliah di kertas dari pada mencatat kembali hal-hal yang penting saja atau membaca lewat notebook atau komputer. Setelah tak terpakai kertas itupun “menghiasi” lantai-lantai kelas.

Beberapa mahasiswa dan dosen juga lebih memilih menggunakan kendaraan daripada berjalan kaki ke tujuan yang sebenarnya masih di fakultas itu, seperti musholla atau ruang akademik. Dari yang saya lihat secara keseluruhan, penyediaan tong sampah masih sedikit di areal kampus seperti di taman, lapangan, kantin, atau tempat perparkiran sehingga memungkinkan adanya perilaku membuang sampah sembarangan. Mahasiswa yang menggunakan sepeda atau kendaraan umum ke kampus juga masih sedikit dibandingkan yang menggunakan kendaraan pribadi.

Fenomena di atas adalah cerminan dari perilaku peduli lingkungan yang masih rendah sesuai hasil survei PPL. Namun Asisten Deputi Komunikasi Kementerian Lingkungan Hidup, Siti Aini Hanun menyatakan tingkat pemahaman masyarakat menjaga lingkungan sebenarnya relatif baik. Dari survei PPL diketahui 61,8% responden tahu program menjaga lingkungan seperti penghijauan, normalisasi sungai, pengelolaan air, dan konversi hutan.

Di sini bisa kita lihat bahwa masyarakat tahu tentang isu-isu lingkungan serta kegiatan pelestariannya, namun tidak semuanya bertindak sesuai apa yang mereka tahu. Salah satu penyebab sebagian orang malas bertindak karena menganggap masalah lingkungan bukan hal yang utama, seperti diungkapkan Sonny Keraf, Mantan Menteri Lingkungan Hidup RI (Kompas, 15/5/2013).

              Proses perubahan
Bagaimana caranya agar pengetahuan yang ada pada masyarakat dapat direalisasikan dalam bentuk tindakan, dalam hal ini perilaku peduli lingkungan? Salah satunya diperlukan proses untuk mengubah sebuah perilaku yang diinginkan. Proses ini disebut Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP). Konsepnya adalah pesan disampaikan secara baik dan berkelanjutan kepada individu atau kelompok sehingga terjadi proses perubahan perilaku pada mereka sejak menerima pesan tersebut.

Proses perubahan tersebut bertahap, dimulai dari mendapatkan pengetahuan, persetujuan, kemauan atau niat, melakukan, hingga mengadvokasi. Pemberi pesan (komunikator) bisa dari dinas yang terkait di bidang lingkungan hidup, universitas, sekolah, pemerintahan desa, relawan peduli lingkungan, atau kepala keluarga. Penerima pesan (komunikan) adalah masyarakat umum, siswa, anggota keluarga atau teman kita sendiri.

Pesan yang disampaikan adalah seperti manfaat menjaga lingkungan, contoh perilaku sehari-hari yang mendukung peduli lingkungan, ajaran-ajaran agama yang terkait dengan menjaga lingkungan, konsekuensi yang akan terjadi, ajakan untuk membuang sampah pada tempatnya, berolahraga, membatasi penggunaan plastik, menghemat listrik dan air, dan sebagainya. Bisa juga memberikan reward yang bermanfaat bagi pelaku peduli lingkungan. Komunikasi yang dilakukan dapat berbentuk iklan, sosialisasi, ceramah, simulasi, dan sebagainya.

Dengan kondisi lingkungan yang semakin sekarat, sangat diharapkan semakin banyak orang yang peduli pada lingkungannya. Orang yang peduli akan mempengaruhi cara pikir serta perilakunya, dan pada akhirnya mengajak orang lain untuk juga peduli. Niscaya kondisi lingkungan akan lebih baik bila banyak orang yang peduli. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raaf: 85). 

http://aceh.tribunnews.com/2013/06/12/sikap-peduli-lingkungan-awak-geutanyoe